Perbedaan dgn pasangan?

Juli 11, 2008 at 8:10 am 1 komentar


Pagi ini..aku dapet email dari seorang teman, dan isi emailnya bagus bgt utk diambil hikmahnya..

Kita Memang Berbeda, Cinta
Pena Kecil Helvy Tiana Rosa

“Ayah bunda lucu deh,” kata anak kami Faiz, pada suatu hari yang gerimis.

Saya mengerutkan kening sambil tersenyum. “Lucu? Lucu apanya sayang?”
“Orangnya bertolak belakang! He he he….”
Saya tersentak sesaat. Faiz, anak kami yang belum berusia 10
tahun dan suka menulis puisi, “membaca” kami sedalam itu.
Saya manggut-manggut. “Hmmm, lalu apanya yang salah?”
Dia mengerling menggoda. “Tidak ada. Ayah Bunda pasangan yang unik!”
Saya dekatkan wajah saya pada Faiz dan menyentuh lembut hidungnya.”Aku mencatat beberapa contoh. Bunda suka durian, ayah anti durian.
 Bunda periang, ayah pendiam. Bunda humoris, ayah sangat serius.
 Hmmm, apalagi ya? Ayah menganalisa, bunda sensitif. Ayah itu detail,
bunda tidak. Ayah dan bunda memandang persoalan dengan cara berbeda.
Menyelesaikan persoalan dengan berbeda pula!”
Saya bengong.

“Bunda romantis tapi ayah tidak. Kalau aku romantis!” katanya
setengah berbisik, lalu tertawa.
Saya tambah bengong! Tahu apa anak itu tentang romantisme?

Faiz terus nyerocos. Ia pun bercerita, tentang percakapan disekolah dengan
teman-temannya. Anak-anak SD Kelas IV ituternyata sudah berpikir, kelak
kalau menikah harus mencari pasangan yang sifatnya sama! “Kalau  tidak
nanti bisa cerai!”
What? Saya garuk-garuk kepala.
“Aku saja yang tidak begitu setuju, Bunda. Aku bilang pada
teman-teman, justru karena ayah bunda berbeda, jadinya malah asyik lho!”

Saya geleng-geleng kepala lagi, sambil mengulum senyum. Ah,
tahukah para orangtua mereka bahwa anak-anak mereka kadang tahu
lebih banyak dari yang kita pikir?

Tak lama Faiz sudah asyik dengan bacaannya di kamar.  Di ruang
kerja saya, tiba-tiba wajah beberapa teman lama melintas.
A memilih bercerai karena setelah menikah 10 tahun dan punya 2
anak kemudian merasa ia dan suami sama sekali tak cocok!
B  menjalani kehidupan rumah tangganya dengan perasaan hampa
karena tak kunjung merasa cocok dengan suaminya, setelah menikah belasan
tahun.
C selalu berkomunikasi dengan suaminya tentang berbagai hal,
tapi terpaksa cekcok hampir setiap hari karena tak kunjung
sampai pada sesuatu bernama kesamaan.
D tak lagi peduli pada indahnya jalan pernikahan dan sekadar
menjaga keutuhan rumah tangga sampai akhir hayat.
Di antara mereka ada yang seperti saya, menikah karena
dijodohkan sahabat atau ustadz. Ada pula yang menikah setelah
melalui pacaran lebih dahulu bertahun-tahun. Dan atas nama
“ketidakcocokan” itulah yang terjadi.
Saya akui, pengamatan Faiz jeli. Saya dan Mas Tomi memang sangat
berbeda. Sebelas tahun kami bersama dan berupaya mencari titik
temu. Tak selalu berhasil. “We are the odd couple!” kelakar kami.

Tapi alhamdulillah, di tengah-tengah segala perbedaan itu, kami
berusaha untuk tak berhenti berkomunikasi. Saya mencoba memilih  waktu
yang tepat, yang menyenangkan untuk bicara berdua. Begitu  juga Mas.
Kami membicarakan perbedaan kami di saat dan di tempat
yang nyaman dan menyenangkan.
Kadang tak semua perlu dibicarakan. Mas menunjukkan dengan sikap
apa yang ia inginkan dari saya. Kadang saat saya lelah, tanpa
harus terucap kata “saya capek,” Mas memijat pundak dan punggung
saya. Saya tahu, saya menangkap, Mas akan senang kalau saya
perlakukan demikian pula. Saya selalu memberi kejutan di saat
milad, ulang tahun pernikahan, di saat ia meraih kesuksesan atau
kapan saja saya mau. Mas menyadari, itu artinya saya pun ingin
diperhatikan demikian. Ia mencoba, meski sebelumnya tak ada
tradisi itu di keluarga Mas. Saya membuatkannya puisi saat Mas
kerap memberi saya data statistik keuangan kami. Mas tahu, saya
ingin sesekali diberi puisi sederhana tentang cinta. Saya pun
menyadari, Mas ingin saya bisa mencatat semua pemasukan dan
pengeluaran rumah tangga dengan rapi. Mas suka makanan tertentu.
Dan meski tak suka, saya coba memasaknya. Saya membelikan Mas
pakaian yang sedikit modis. Mas nyengir, tapi ia coba memakainya.

Berupaya untuk memahami dan mengecilkan perbedaan menjadi indah,
ketika itu dilakukan dengan senyum dan ketulusan, bukan karena
tuntutan atau paksaan terhadap pasangan. Dan kalau dengan
berubah kita lantas menjadi lebih baik, kalau berubah itu dalam
rangka ibadah, dalam rangka membuat pasangan kita bahagia,
mengapa tidak? Kalaupun pasangan kita tidak juga berubah dari
karakter semula setelah bertahun-tahun, mengapa kita tak melihat
hal itu sebagai keunikan yang makin membuat kita “kaya”?

Di atas itu semua, sebenarnya semua perbedaan bisa saja seolah
lebur saat suami istri menyadari persamaan utama mereka, yaitu
keinginan menjadi abdi illahi sejati! Cinta karena dan untukNya,
menjadikan sifat dan karakter yang paling berbeda sekalipun,
bersimpuh atas namaNya. Perbedaan justru menjadi masalah serius
ketika masing-masing pribadi memang tidak menempatkan ridho
Allah sebagai tujuan utama dalam biduk rumah tangga mereka.

Di luar, hujan mulai reda. Sayup-sayup saya dengar suara Faiz di
telpon. Rupanya ia sedang bercakap dengan salah satu temannya.
“Apa? Ayah bundamu bertengkar? Sudah, jangan menangis. Cinta
yang besar kepada Allah, akan selalu menyatukan mereka!”

Saya nyengir. Sejak kapan anak itu menjadi konsultan ya?
Well…ini cerita bagus bgt menurut aku..Apa yg bisa diambil dari cerita ini menurutku adalah :

Cinta bukan dilihat dari seberapa banyak persamaan yang kita dan pasangan peroleh, tapi seberapa banyak dan seberapa besar perbedaan dari masing2 yang bisa kita seimbangkan dan persatukan dan bukan dijadikan suatu masalah. Alangkah indahnya jika semua perbedaan itu bisa bisa mempersatukan kita dengan saling melengkapi satu sama lain.”

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Join Chat Room Anugrah di setiap Langkah

1 Komentar Add your own

  • 1. youlizcafe  |  Februari 24, 2009 pukul 5:06 am

    so sweet bun..
    thanks postingannya. bikin aku belajar kelak saat aku menikah lagi..amiin..
    salam kenal yaa..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Tamu Kunjungan

  • 71,035 hits

my Photo's

PicsArt_1408196181003

PicsArt_1408195912604

20150405_125014

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: